TABANAN, BALINEWS.ID — Rencana penataan kota dan Patung Catur Muka di pusat kota mendapat restu dan dukungan penuh dari Raja Tabanan, Ida Cokorda Anglurah Tabanan. Menurut beliau, pembangunan kembali ikon titik nol kilometer ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah upaya besar dalam menjaga marwah, keselamatan, dan identitas daerah di tengah modernisasi perkotaan.
“Patung Catur Muka merupakan salah satu penanda Kota Tabanan. Penataannya harus mampu mencerminkan kemajuan daerah tanpa meninggalkan akar sejarah, adat, dan budaya yang menjadi jati diri masyarakat Tabanan,” tegas Ida Cokorda Anglurah Tabanan.
Ida Cokorda berharap patung baru ini nantinya dapat menjadi warisan yang dibanggakan generasi mendatang sekaligus bukti nyata bahwa pembangunan modern dan pelestarian budaya bisa berjalan beriringan.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang melekat pada patung tersebut, Desa Adat Kota Tabanan telah melaksanakan prosesi ritual Meprelina pada Rabu (8/7/2026). Ritual ini menandai pembersihan secara niskala sebelum dibongkarnya patung lama.
Bendesa Adat Kota Tabanan, I Made Suwardika, menyatakan bahwa usulan ini murni lahir dari keinginan krama adat yang merindukan ikon kota yang lebih representatif.
“Kami berharap Patung Catur Muka yang baru menjadi simbol kebanggaan masyarakat Tabanan. Selain lebih megah dan indah, pembangunannya juga tetap menghormati nilai-nilai adat, budaya, dan filosofi yang melekat,” kata Suwardika.
Sebelum pengerjaan fisik dimulai, Pemkab Tabanan juga telah menggelar sosialisasi di Gedung Graha Yadnya yang melibatkan pengurus desa adat serta para pemilik toko di sepanjang Jalan Gajah Mada. Langkah ini dilakukan guna memastikan penataan koridor utama kota berjalan kondusif dan mendapat dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Tabanan, I Gde Made Partana, menambahkan bahwa pembaruan total ini terpaksa dilakukan karena kondisi fisik patung lama yang sudah tergerus usia dan cuaca. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, ditemukan:
Pelapukan pada permukaan patung.
Retakan di sejumlah bagian struktur.
Beberapa ornamen mulai longgar bahkan terlepas.
“Kondisi ini bukan hanya mengurangi nilai estetika dan kewibawaan ikon Kota Tabanan, tetapi juga berpotensi membahayakan masyarakat apabila dibiarkan terus mengalami kerusakan,” jelas Partana.
Oleh karena itu, opsi mengganti patung dinilai jauh lebih tepat dan aman ketimbang hanya melakukan perbaikan parsial.
Nantinya, pembangunan patung baru ini merupakan respons langsung dari aspirasi Desa Adat Kota Tabanan. Secara teknis, dimensi patung baru akan dibuat jauh lebih megah dibandingkan struktur sebelumnya demi memperkuat estetika kawasan Jalan Gajah Mada.
Perbandingan Dimensi Patung Catur Muka:
| Dimensi Patung | Struktur Lama | Struktur Baru (Rencana) |
| Tinggi (dari permukaan tanah) | ± 5,2 Meter | ± 9 Meter |
| Lebar Dasar | – | 6,2 Meter |
“Kami menerjemahkan aspirasi masyarakat ke dalam kajian teknis untuk menghadirkan sebuah simbol ikonik yang tidak hanya kokoh secara struktur, tetapi juga memiliki nilai estetika dan filosofis yang lebih kuat,” tambah Partana.
