INTERMESO, BALINEWS.ID – Nilai tukar rupiah yang menyentuh hingga level Rp17.000 per dolar AS pada Mei 2026 memunculkan kekhawatiran soal kondisi ekonomi masyarakat. Namun di sisi lain, pusat perbelanjaan, konser, hingga coffee shop di berbagai kota masih terlihat ramai dipadati pengunjung.
Fenomena ini dinilai berkaitan dengan lipstick effect atau efek lipstik, yakni kecenderungan masyarakat tetap membeli barang atau pengalaman kecil yang dianggap mampu memberi rasa nyaman di tengah tekanan ekonomi.
Dalam situasi ekonomi sulit, konsumen biasanya mengurangi pembelian barang mahal seperti mobil, liburan besar, atau produk mewah bernilai tinggi. Sebagai gantinya, mereka memilih “kemewahan terjangkau” seperti nongkrong di coffee shop, membeli skincare, minuman kopi, makanan favorit, atau hiburan kecil lainnya.
Dilansir dari Kompas, fenomena lipstick effect pertama kali dikenalkan Leonard Lauder pada 2001 setelah penjualan lipstik meningkat pasca tragedi 9/11 di Amerika Serikat. Saat daya beli tertekan, masyarakat tetap mencari cara untuk memanjakan diri tanpa mengeluarkan biaya terlalu besar.
Kondisi serupa dinilai mulai terlihat di Indonesia. Meski nilai tukar rupiah melemah dan suku bunga naik, aktivitas konsumsi tertentu masih bertahan. Coffee shop yang tetap ramai tidak selalu berarti kondisi ekonomi masyarakat sedang baik-baik saja, tetapi bisa menjadi tanda bahwa masyarakat mencari hiburan atau ruang nyaman yang masih terasa terjangkau.
Di sisi lain, tekanan ekonomi tetap dirasakan sebagian masyarakat, terutama akibat kenaikan harga barang impor, biaya cicilan, dan ketidakpastian ekonomi global. Karena itu, ramainya tempat nongkrong belum tentu mencerminkan daya beli masyarakat secara keseluruhan masih kuat.
Artinya, pelemahan rupiah tidak otomatis membuat seluruh aktivitas konsumsi berhenti. Dalam kondisi ekonomi yang menekan, pola belanja masyarakat justru bisa berubah ke pengeluaran kecil yang memberi rasa senang sesaat. (*)
