GIANYAR, BALINEWS.ID – Pengalaman selama dua dekade bergelut di dunia birokrasi menjadi modal utama I Made Darsana atau yang akrab disapa Togog untuk maju dalam Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.
Calon Perbekel Desa Guwang ini optimistis dapat meraih dukungan masyarakat. Setelah selama ini lebih banyak bekerja di lingkungan birokrasi, Darsana kini memilih turun langsung ke tengah masyarakat dengan membawa sejumlah gagasan pembangunan untuk Desa Guwang.
Darsana yang saat ini berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Sekretariat DPRD Kabupaten Gianyar mengaku maju dalam kontestasi Pilkel karena ingin memberikan kontribusi lebih besar bagi pembangunan desa.
“Selama ini saya lebih banyak berada di belakang layar. Sekarang saya memberanikan diri maju karena ingin ikut membangun Guwang,” ujar Darsana saat ditemui di kediamannya di Banjar Wangbung.
Menurut dia, selama perjalanan menuju Pilkel Desa Guwang, dirinya telah mendapatkan dukungan dari masyarakat di enam banjar. Desa Guwang sendiri memiliki sekitar 5.300 pemilih.
Pengalaman Darsana tidak hanya dibentuk dari dunia pemerintahan. Sebelum bergabung dalam birokrasi, ia pernah bekerja sebagai sopir freelance di kawasan Sanur Beach. Ia juga pernah mendampingi ibunya selama sekitar delapan tahun menjalankan usaha dengan bolak-balik antara Guwang dan Klungkung.
Darsana juga pernah terlibat dalam pengembangan usaha penjualan oleh-oleh di Pasar Seni Guwang. Pengalaman tersebut membuatnya cukup memahami persoalan ekonomi masyarakat, khususnya para pelaku usaha kecil dan pedagang.
Selama ini, Darsana mengaku aktif membantu mengawal berbagai kebutuhan masyarakat dan pembangunan di Desa Guwang. Di antaranya bantuan kursi roda dan tongkat bagi warga sakit serta lansia, penataan Setra Desa Guwang, pavingisasi, pembangunan gapura Hidden Canyon, pemasangan trotoar, perbaikan Pasar Seni Guwang hingga pembangunan senderan Tukad Cengceng.
Di sektor pertanian, ia juga ikut memperjuangkan kebutuhan para petani, termasuk pengadaan traktor dan perbaikan saluran irigasi.
Berbagai pengalaman tersebut kemudian mendorong Darsana untuk menyiapkan sejumlah program apabila dipercaya memimpin Desa Guwang. Salah satunya adalah pelayanan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas melalui program Ramah Disabilitas.
Menurut Darsana, kepedulian terhadap kelompok disabilitas tumbuh dari pengalamannya berinteraksi langsung dengan seorang warga yang memiliki keterbatasan dan membutuhkan perhatian serta teman untuk berbicara.
“Dari sana saya belajar bahwa masyarakat yang memiliki keterbatasan juga membutuhkan perhatian, teman bicara dan pelayanan yang manusiawi. Jangan sampai mereka merasa ditinggalkan,” katanya.
Ia menegaskan, pelayanan kepada masyarakat harus dapat dilakukan secara cepat dan mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi warga.
“Saya ingin pelayanan kepada masyarakat lebih cepat dan persoalan yang ada bisa ditangani dengan baik. Prinsipnya berani melayani, ikhlas membangun, serta bersih dan transparan,” tegasnya.
Salah satu program yang menjadi perhatian utama Darsana adalah upaya menghidupkan kembali Pasar Seni Guwang. Pasar tersebut pernah menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan di kawasan Sukawati.
Darsana menilai Pasar Seni Guwang memiliki potensi besar untuk kembali berkembang apabila dikelola dan ditata sesuai perkembangan zaman serta kebutuhan wisatawan dan masyarakat.
“Perjalanan Pasar Seni Guwang sudah sekitar 25 tahun. Dulu masih tradisional, sekarang harus mengikuti perkembangan. Keinginan pedagang bagaimana pasar ini kembali ramai dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain mendorong kebangkitan ekonomi melalui Pasar Seni Guwang, Darsana juga menyiapkan program penguatan sumber daya manusia, pengembangan ruang publik, pelestarian seni dan budaya, hingga pelayanan publik berbasis teknologi.
Sinergi antara pemerintah desa dinas dan desa adat juga menjadi perhatian dalam konsep pembangunan yang dibawanya.
Lulusan S1 yang baru menyelesaikan ujian Magister Administrasi Publik (MAP) di Universitas Ngurah Rai tersebut mengusung visi menjadikan Desa Guwang sebagai desa “SUGIH”, yakni Sejahtera, Unggul, Gembira, Inovatif dan Harmonis, dengan semangat totalitas gotong royong yang berlandaskan Tri Hita Karana.
Bagi Darsana, pengalaman panjang di dunia birokrasi harus mampu diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, jika dipercaya memimpin Desa Guwang, ia ingin menghadirkan pemerintahan desa yang responsif, terbuka, dan transparan.
Pengalaman selama 20 tahun di birokrasi, menurutnya, menjadi bekal untuk memahami tata kelola pemerintahan sekaligus membangun pelayanan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan mengusung pelayanan prima dan totalitas gotong royong, Darsana berharap dapat membawa Desa Guwang menuju arah pembangunan yang lebih maju tanpa meninggalkan identitas, budaya, dan keharmonisan masyarakat desa. (*)
