Tangerang Selatan, BALINEWS.ID — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong generasi muda memahami tantangan pengembangan teknologi satelit Indonesia, mulai dari kebutuhan komunikasi saat bencana hingga persoalan kepadatan objek buatan manusia di ruang angkasa.
Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN Wahyudi Hasbi mengatakan, kebutuhan Indonesia terhadap teknologi satelit berkaitan erat dengan kondisi geografis dan potensi bencana. Jaringan komunikasi berbasis darat dapat terganggu atau terputus ketika bencana terjadi.
Hal itu disampaikan Wahyudi dalam diskusi interaktif bersama pelajar pada kegiatan Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) 2026 Aerospace Talent School di KST B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (23/9).
Menurut Wahyudi, kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang pengembangan satelit LAPAN-A2/LAPAN-ORARI yang dirancang untuk mendukung komunikasi dalam situasi darurat.
LAPAN-A2 dilengkapi muatan voice repeater yang mendukung komunikasi amatir radio. Teknologi tersebut memungkinkan komunikasi dari Sabang hingga Merauke menggunakan radio genggam atau hand transceiver (HT) dengan antena sederhana.
“Kalau ada bencana, berarti kita harus punya the means of telecommunication. Kita harus membuat sistem yang sangat murah sehingga semua orang dapat menggunakannya setiap saat,” kata Wahyudi.
Ia menjelaskan, pengembangan teknologi satelit dilakukan melalui pendekatan system engineering. Kebutuhan atau misi terlebih dahulu diterjemahkan menjadi system requirement, kemudian dinilai berdasarkan kesiapan teknologi, ketersediaan pendanaan, dan akses peluncuran ke luar angkasa.
Indonesia saat ini belum memiliki roket peluncur sendiri. Karena itu, kerja sama dengan India disebut menjadi salah satu peluang untuk mendukung peluncuran satelit Indonesia.
Wahyudi juga menyebut posisi geografis Indonesia di sekitar garis khatulistiwa memiliki nilai strategis dalam pengembangan dan peluncuran satelit. Pemilihan orbit ekuatorial turut mempertimbangkan frekuensi akses satelit terhadap wilayah Indonesia.
Satelit LAPAN-A2 yang berada di orbit ekuatorial, kata dia, dapat melintasi wilayah Indonesia sebanyak 14 kali dalam sehari.
Selain persoalan teknologi dan peluncuran, diskusi juga menyoroti meningkatnya jumlah satelit di orbit seiring berkembangnya konstelasi satelit untuk kebutuhan komunikasi.
Wahyudi menyebut ruang angkasa juga berpotensi dimanfaatkan sebagai lokasi penyimpanan data karena kebutuhan energi dan pendinginan dinilai lebih efisien dibandingkan pusat data di Bumi.
“Kenapa space lebih efisien dari sisi power? Ketika kita membangun cloud center di Bumi, kebutuhan listriknya sangat besar karena penggunaan energi di Bumi relatif kurang efisien,” ujarnya.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas di ruang angkasa memunculkan kebutuhan terhadap pengelolaan lalu lintas benda antariksa dan keberlanjutan ruang angkasa.
Wahyudi menjelaskan, ruang angkasa memiliki perbedaan mendasar dengan ruang udara dari perspektif hukum internasional. Ruang angkasa tidak dapat diklaim sebagai wilayah kedaulatan satu negara sehingga pemanfaatannya membutuhkan tanggung jawab dan koordinasi antarnegara.
Karena itu, konsep space traffic management dan space sustainability berkembang di tingkat internasional untuk menjaga keteraturan lalu lintas benda antariksa sekaligus memastikan ruang angkasa tetap dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
“Kita perlu menjaga ruang angkasa agar tetap dapat dimanfaatkan oleh anak cucu dan generasi mendatang. Keberlanjutan ini penting karena ruang angkasa memiliki peran yang semakin besar dalam mendukung kehidupan manusia,” kata Wahyudi.
Salah satu aspek keberlanjutan tersebut adalah pengelolaan satelit yang telah berhenti beroperasi. Untuk satelit di orbit rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO), terdapat ketentuan agar satelit dikeluarkan dari orbit paling lama 25 tahun setelah masa operasinya berakhir.
Ketentuan tersebut ditujukan untuk mengurangi penumpukan sampah antariksa yang berpotensi mengganggu dan membahayakan operasional satelit aktif pada masa mendatang.
