TANGERANG SELATAN, BALINEWS.ID — Pengembangan teknologi satelit Indonesia terus berkembang dari satelit eksperimental untuk observasi Bumi hingga teknologi yang mendukung komunikasi, mitigasi bencana, pemantauan kapal, dan penyediaan data penginderaan jauh.
Perkembangan tersebut diperkenalkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kepada pelajar melalui Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) 2026 Aerospace Talent School di KST B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (23/9).
Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) BRIN, Rifki Ardinal, mengatakan perkembangan teknologi satelit nasional dapat dilihat dari pengembangan LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3. Pengembangan tersebut kini berlanjut melalui Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) yang telah memasuki tahap pengujian dan integrasi.
“LAPAN-A1 merupakan satelit eksperimental generasi pertama yang dikembangkan periset Indonesia melalui kerja sama dengan Universitas Teknik Berlin,” kata Rifki.
LAPAN-A1 merupakan satelit berorbit polar dengan misi utama observasi Bumi. Satelit tersebut melintasi wilayah Indonesia sekitar empat hingga enam kali dalam sehari.
Pengembangan kemudian berlanjut melalui LAPAN-A2, satelit eksperimental generasi kedua yang dikembangkan bersama Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). Seluruh proses rancang bangun satelit tersebut dilakukan di dalam negeri.
LAPAN-A2 diluncurkan dari India pada 28 September 2015. Satelit ini membawa sejumlah misi, antara lain observasi Bumi melalui kamera spacecam, mitigasi bencana menggunakan muatan voice repeater (VR) dan automatic packet reporting system (APRS), serta pemantauan kapal melalui automatic identification system (AIS).
Setahun kemudian, Indonesia mengembangkan LAPAN-A3 bersama Institut Pertanian Bogor (IPB). Satelit tersebut diluncurkan pada 22 Juni 2016 dengan kemampuan AIS yang memiliki cakupan data lebih luas hingga skala global.
Selain AIS, LAPAN-A3 dilengkapi kamera multispektral untuk memantau vegetasi, spacecam untuk observasi Bumi, serta magnetometer untuk memantau medan magnet Bumi.
Ketiga satelit tersebut dikendalikan melalui sejumlah stasiun bumi BRIN, antara lain di Rancabungur, Bogor; Kototabang, Sumatera Barat; Parepare, Sulawesi Selatan; dan Biak, Papua.
Pengembangan teknologi satelit nasional kini berlanjut melalui NEO-1. Rifki mengatakan satelit tersebut telah memasuki tahap pengujian dan integrasi.
NEO-1 memiliki misi utama observasi Bumi dengan menyediakan data citra satelit beresolusi tinggi dan menengah. Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk pemetaan wilayah, pemantauan pertanian dan kehutanan, pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, hingga pemantauan aktivitas kapal melalui sistem AIS.
“NEO-1 memiliki misi utama observasi Bumi melalui penyediaan data citra satelit beresolusi tinggi dan menengah,” ujar Rifki.
Menurut Rifki, pengembangan NEO-1 menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian teknologi satelit nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan data penginderaan jauh untuk mendukung berbagai kebutuhan pembangunan di Indonesia.
Selain mengenalkan perkembangan satelit, BRIN juga mengajak peserta IRIFair 2026 mempraktikkan komunikasi menggunakan satelit LAPAN-A2 atau IO-86.
Presiden Amateur Satellite Indonesia (AMSAT-ID), Muhammad Yasir Zain, memperkenalkan konsep orbit, footprint, azimut, dan elevasi sebelum peserta melakukan praktik komunikasi menggunakan radio genggam atau hand transceiver (HT) dan antena sederhana.
Yasir menjelaskan, perancangan lintasan satelit harus mempertimbangkan cakupan wilayah agar sinyal dapat menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Pemahaman tersebut kemudian diterapkan peserta dalam praktik komunikasi radio dengan memanfaatkan lintasan satelit.
Peserta juga diperkenalkan dengan aturan penggunaan tanda panggil atau call sign. Yasir menegaskan, penggunaan radio komunikasi melalui satelit harus memenuhi ketentuan perizinan dan menggunakan tanda panggil resmi.
Dalam praktik pelacakan satelit, azimut dan elevasi menjadi dua istilah penting. Azimut menunjukkan arah antena, sedangkan elevasi menunjukkan sudut ketinggian antena dari horizon.
Pergerakan satelit juga dapat dipantau melalui aplikasi pelacak yang menampilkan posisi satelit berdasarkan prediksi lintasannya. Salah satu informasi yang ditampilkan adalah Acquisition of Signal (AOS), yaitu waktu ketika sinyal satelit mulai dapat diterima stasiun bumi.
Yasir menjelaskan, satelit umumnya mengalami tumbling atau berputar bebas selama mengorbit. Akibatnya, posisi antena satelit tidak selalu mengarah langsung ke stasiun bumi sehingga dapat menyebabkan pelemahan sinyal atau fading.
Untuk menjaga kualitas komunikasi, penggunaan antena dengan polarisasi melingkar dapat membantu mengatasi kondisi tersebut.
Menurut Yasir, komunikasi melalui satelit dapat dilakukan dengan perangkat yang relatif sederhana dan murah. HT dengan daya pancar 5 watt dapat digunakan untuk mengakses voice repeater LAPAN-A2 atau IO-86, sementara antena dapat dibuat menggunakan bahan sederhana seperti kawat hanger atau kawat jemuran.
“Satelit LAPAN-A2 atau IO-86 dilengkapi voice repeater yang dapat diakses menggunakan HT standar dengan daya pancar 5 watt dan jangkauan lebih dari 4.500 kilometer,” kata Yasir.
Melalui fasilitas tersebut, amatir radio di Indonesia dapat berkomunikasi dengan pengguna di sejumlah negara lain, termasuk Malaysia, Filipina, Thailand, Sri Lanka, Jepang, dan Tiongkok.
IO-86 juga dapat digunakan untuk APRS pada frekuensi 145,825 MHz, sedangkan voice repeater beroperasi pada frekuensi 145,880 MHz untuk uplink dan 435,880 MHz untuk downlink.
Kegiatan tersebut memberikan gambaran kepada pelajar bahwa teknologi satelit tidak hanya berkaitan dengan peluncuran benda ke orbit, tetapi juga mencakup rekayasa, komunikasi, observasi Bumi, mitigasi bencana, pemantauan lingkungan, dan pemanfaatan data untuk berbagai kebutuhan di Indonesia.
