JAKARTA, BALINEWS.ID — Pemerintah mendorong industri furnitur Indonesia memperluas pasar ekspor dan meningkatkan daya saing global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan industri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor tertentu.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri furnitur menjadi salah satu subsektor manufaktur yang mencatat pertumbuhan kuat. Industri furnitur tumbuh 11,82% secara tahunan (yoy), sementara industri pengolahan secara keseluruhan berkontribusi 18,50% terhadap perekonomian nasional dengan pertumbuhan 4,52%.
“Penyelenggaraan IFFINA+ hari ini menjadi penting sebagai salah satu bentuk sarana memitigasi risiko dengan jalan memperluas pasar, membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional, serta mengurangi ketergantungan ekspor pada pasar-pasar tertentu,” kata Airlangga secara virtual dalam acara International Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA)+ 2026, Kamis (24/9).
Menurut Airlangga, Indonesia memiliki peluang meningkatkan pangsa pasar furnitur dunia melalui peningkatan kualitas, desain, keberlanjutan produk, promosi perdagangan, serta perluasan jaringan dengan pembeli internasional.
Kinerja perdagangan furnitur Indonesia mencatat surplus sejak 2021. Pada 2025, nilai ekspor furnitur mencapai US$2,39 miliar, sedangkan impor sebesar US$1,92 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan furnitur mencatat surplus sekitar US$473,31 juta.
Indonesia berada di peringkat ke-25 sebagai eksportir furnitur dunia pada 2025 dengan pangsa pasar sebesar 0,77%. Amerika Serikat menjadi pasar utama yang menyerap sekitar 60% ekspor furnitur Indonesia.
Airlangga mengatakan industri furnitur juga perlu menyesuaikan desain dengan perubahan preferensi konsumen global. Permintaan pasar kini bergerak menuju produk yang fungsional, mudah disesuaikan, serta menggunakan material yang lebih ramah lingkungan.
Menurut dia, ketersediaan bahan baku kayu dan rotan menjadi salah satu modal Indonesia untuk mengembangkan produk tersebut. Produksi kayu bulat Indonesia pada 2024 mencapai 57,46 juta meter kubik, dengan sekitar 20% produksi log nasional digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan kayu.
Indonesia juga merupakan salah satu negara penghasil rotan utama dunia dengan produksi mencapai lebih dari 80% rotan dunia.
Namun, struktur industri nasional masih didominasi industri kecil dan menengah (IKM). Airlangga menyebut sekitar 99,79% dari total 4,45 juta unit usaha industri merupakan IKM dan menyerap 65,52% tenaga kerja industri.
“Dengan skala ini, industri tentu masih menghadapi tantangan keterbatasan teknologi, serta terkait produktivitas yang masih dapat ditingkatkan,” ujarnya.
Selain persoalan teknologi dan produktivitas, pelaku industri furnitur juga dituntut menyesuaikan produk dengan standar, regulasi, dan selera konsumen di negara tujuan ekspor.
Pemerintah Siapkan Dukungan Industri
Untuk memperkuat daya saing, pemerintah menyediakan sejumlah dukungan bagi industri furnitur. Kebijakan tersebut antara lain insentif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 ditanggung pemerintah bagi pekerja yang memenuhi ketentuan serta akses pembiayaan melalui Kredit Industri Padat Karya.
Pemerintah juga menyediakan program restrukturisasi mesin dan peralatan untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas industri. Dukungan promosi ekspor diberikan untuk membantu pelaku usaha memperluas pasar internasional.
Di sisi hulu, pemerintah mengarahkan kebijakan pada pengendalian ekspor kayu bulat, penguatan standar produk dan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), serta penerapan prinsip industri hijau.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk di dalam negeri dan memperluas manfaat pengembangan industri furnitur, termasuk bagi pelaku IKM.
Airlangga juga mengapresiasi Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) atas penyelenggaraan IFFINA+ 2026. Ia berharap pameran tersebut dapat menghasilkan transaksi perdagangan, kemitraan, kolaborasi, serta membuka akses pasar internasional yang lebih luas bagi produk furnitur dan kerajinan Indonesia.
Pemerintah juga mengajak pembeli, importir, dan investor internasional menjajaki kerja sama dengan pelaku industri nasional.
Sementara bagi pelaku usaha Indonesia, Airlangga mendorong pemanfaatan ajang tersebut untuk membangun jaringan bisnis, memahami perkembangan pasar global, dan memperkuat daya saing industri.
