Oleh ; Kande Putra
BALINEWS.ID – Kita sedang hidup di zaman yang serba instan dan selalu ingin memviralkan sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya menghargai proses, tetapi memuja persepsi, like, komentar, dan tentunya secara langsung ingin validasi. Di Bali, fenomena ini terasa begitu nyata di mana seseorang bisa tiba-tiba dianggap “ahli”, “konsultan”, bahkan “figur berpengaruh” hanya karena memiliki ribuan hingga jutaan pengikut di media sosial. Pintar berbicara dan membangun alibi atau narasi, padahal, jika ditelusuri lebih dalam, tidak semua dari mereka memiliki pengalaman empiris yang cukup, apalagi rekam jejak yang teruji.
Yang bekerja dan berprestasi bukan lagi yang berkualitas, tetapi bagaimana seseorang membangun citra dan memainkan narasi. Dan masyarakat, tanpa sadar, mulai mengamini itu sebagai standar baru profesionalisme.
Ambil contoh di sektor pariwisata Bali. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak destinasi menjadi viral bukan karena perencanaan matang, tetapi karena konten pendek di platform seperti TikTok atau Instagram. Tempat-tempat seperti pantai tersembunyi, air terjun, hingga spot “instagrammable” mendadak dipadati wisatawan dalam waktu singkat. Salah satu kasus yang sering disorot adalah lonjakan kunjungan ke kawasan-kawasan alam yang sebelumnya relatif sepi, yang kemudian mengalami tekanan lingkungan karena tidak siap menampung arus wisatawan. Menurut laporan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, fenomena overconcentration di beberapa titik di Bali mulai menjadi perhatian serius karena berpotensi merusak ekosistem dan keseimbangan sosial masyarakat lokal.
Yang menjadi ironis, banyak konten yang mempromosikan destinasi tersebut tidak menyertakan edukasi tentang etika berkunjung, keberlanjutan, atau dampak jangka panjang. Yang dijual adalah visual, sensasi, dan pengalaman instan. Sementara pengelola lokal yang memahami daya dukung lingkungan, adat, dan keseimbangan budaya sering kali tidak memiliki suara sebesar para influencer. Di sini kita melihat jelas bagaimana narasi mengalahkan substansi.
Fenomena ini juga terjadi di dunia kuliner Bali. Banyak tempat makan mendadak ramai karena viral di media sosial, bukan karena kualitas rasa yang konsisten atau standar pelayanan yang baik, tetapi karena satu konten yang menarik perhatian. Tidak sedikit kasus di mana ekspektasi pengunjung tidak sebanding dengan realitas di lapangan. Ulasan yang sebenarnya biasa saja bisa berubah menjadi “luar biasa” hanya karena dibungkus dengan storytelling yang kuat. Ini menciptakan distorsi pasar, di mana pelaku usaha yang fokus pada kualitas jangka panjang harus bersaing dengan mereka yang fokus pada viralitas jangka pendek.
Di bidang kesehatan di Indonesia, kita juga melihat fenomena yang cukup mengkhawatirkan. Selama masa pandemi COVID-19, banyak individu yang bukan tenaga medis aktif memberikan saran kesehatan di media sosial, mulai dari pengobatan alternatif hingga klaim-klaim yang tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sendiri beberapa kali mengeluarkan klarifikasi terkait hoaks kesehatan yang beredar luas di platform digital. Namun, sering kali klarifikasi tersebut kalah cepat dibandingkan dengan penyebaran informasi yang sudah terlanjur viral. Di sini, jumlah followers dan gaya penyampaian yang meyakinkan menjadi lebih dominan daripada validitas informasi itu sendiri.
Kita juga bisa melihat fenomena “motivator instan” atau “mentor sukses” di Indonesia. Banyak figur yang membangun citra sebagai pakar bisnis, finansial, atau pengembangan diri, tetapi tidak memiliki rekam jejak yang jelas dalam bidang yang mereka ajarkan. Mereka menjual harapan, bukan pengalaman. Mereka menjual cerita sukses, bukan proses kegagalan. Dalam beberapa kasus, bahkan muncul laporan masyarakat yang merasa dirugikan karena mengikuti pelatihan berbayar yang tidak memberikan nilai nyata. Otoritas Jasa Keuangan pernah mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap penawaran investasi atau pelatihan yang menjanjikan keuntungan cepat tanpa dasar yang jelas.
Di Bali sendiri, fenomena ini juga masuk ke ranah properti dan investasi. Banyak individu yang memposisikan diri sebagai “property expert” atau “investment advisor” hanya bermodal pengalaman singkat dan kemampuan membangun citra di media sosial. Mereka berbicara tentang ROI, passive income, dan peluang emas di Bali, tetapi sering kali mengabaikan aspek legalitas, risiko pasar, dan keberlanjutan investasi. Bagi masyarakat awam, narasi yang terdengar meyakinkan ini bisa sangat menggoda. Namun, tanpa pemahaman yang mendalam, keputusan yang diambil bisa berujung pada kerugian.
Ada juga fenomena di mana segala hal permasalahan hidup diposting di media sosial, berharap menjadi pusat perhatian dan masalah itu akan selesai, sampai ada influencer-influenser, akun-akun yang khusus memposting tentang permasalahan-permasalahan personal seseorang. Dan itu banyak diikuti dan dikomentari oleh netizen atau masyarakat umum yang terjebak dalam kondisi sosial saat ini. Ada yang khusus berkeliling ke daerah daerah hanya untuk mencari dan memviralkan keburukan daerah tersebut atau mencari kekurang dari pemimpin di daerah tersebut, apakah itu akan menyelesaikan masalah?
Di sisi lain, keberadaan akun-akun media sosial dan influencer-influencer tersebut banyak membuka tabir keburukan dari kelakuan para oknum pejabat, kondisi real di lapangan, kondisi masyarakat di pelosok desa, tetapi kembali lagi apakah itu akan menyelesaikan masalah?, Frase “no viral no justice” semakin memvalidasi keberadaan influencer dan akun-akun tersebut yang sejatinya diharapkan oleh sebagian masyarakat adalah keadilan.
Masalah utamanya bukan pada keberadaan media sosial atau influencer. Platform seperti TikTok dan Instagram hanyalah alat. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana alat tersebut mengubah cara kita menilai sesuatu. Ketika angka menjadi tolok ukur utama, kita mulai menyederhanakan kompleksitas menjadi sesuatu yang dangkal. Kita berhenti bertanya tentang proses, tentang latar belakang, tentang validitas. Kita cukup melihat angka, dan langsung percaya.
Fenomena ini juga berkaitan dengan cara kerja algoritma. Konten yang emosional, provokatif, dan mudah dicerna cenderung lebih cepat menyebar dibandingkan dengan konten yang berbasis data dan analisis mendalam. Artinya, sistem itu sendiri memberi keuntungan kepada mereka yang pandai membangun narasi, bukan mereka yang memiliki kompetensi nyata. Ini menciptakan ekosistem di mana ilusi bisa berkembang lebih cepat daripada kebenaran.
Di titik ini, kita perlu jujur: ada kesalahan kolektif. Bukan hanya dari mereka yang membangun citra, tetapi juga dari kita sebagai audiens yang tidak cukup kritis. Kita terlalu cepat percaya, terlalu mudah terkesan, dan terlalu jarang memverifikasi. Kita lebih tertarik pada apa yang terlihat menarik daripada apa yang benar.
Padahal, profesionalisme sejati tidak pernah instan. Ia dibangun dari waktu, dari kegagalan, dari pengalaman yang tidak selalu terlihat di permukaan. Ia tidak selalu punya panggung, tidak selalu viral, tetapi ia nyata. Dan di dunia nyata—di luar layar—yang nyata selalu memiliki konsekuensi.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tapi berat: apakah kita ingin hidup di dunia yang menghargai kompetensi, atau di dunia yang mengagungkan persepsi? Karena pilihan itu tidak hanya menentukan siapa yang kita percaya, tetapi juga menentukan kualitas keputusan yang kita ambil sebagai individu dan sebagai masyarakat. Kp
