BALINEWS.ID – Ada satu pola yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Setiap kali Presiden Prabowo Subianto berangkat ke luar negeri, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka justru muncul di titik-titik krisis dalam negeri, dari korban keracunan MBG di Sumatera Utara sampai kebakaran hutan di Kalimantan. Pertanyaannya: ini murni kerja, atau ini manuver politik yang dirancang rapi memanfaatkan kekosongan panggung?
Pakar komunikasi politik Universitas Indonesia, Ari Junaedi, tidak menutup-nutupi bahwa timing ini punya makna strategis. “Pemerintah melalui representasi Gibran menunjukkan pemerintah terus hadir di saat rakyatnya tengah tertimpa musibah,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (15/9/2026).
Blusukan yang Muncul Justru Saat Panggung Kosong
Ini bagian yang perlu dibaca kritis. Kehadiran seorang wakil presiden di lokasi bencana bukan hal aneh, itu memang bagian dari tugasnya. Yang jadi pertanyaan adalah kenapa pola ini justru paling menonjol ketika presiden sedang tidak berada di dalam negeri, bukan pada momen-momen krisis lain yang juga pernah terjadi sebelumnya.
Kalau memang ini murni soal kepedulian terhadap rakyat, semestinya pola kunjungan Gibran konsisten terlepas dari ke mana pun Prabowo pergi. Tapi kalau pola ini justru berulang kali muncul bertepatan dengan absennya presiden, wajar publik mulai bertanya, apakah ini soal empati kemanusiaan, atau soal mengisi ruang kosong sorotan media yang selama ini lebih sering jatuh ke tangan orang nomor satu.
Citra “Bisa Bekerja” yang Sedang Dibangun Pelan-pelan
Ari sendiri cukup terbuka soal apa yang sebenarnya sedang dibangun lewat pola blusukan ini. “Setidaknya Gibran memberi sinyal bahwa dirinya bukan sosok yang selama ini terkonstruksikan dalam pandangan publik sebagai orang ‘yang tidak bisa bekerja’ tetapi adalah figur dari orang yang bisa bekerja bahkan mengambil celah yang selama ini luput dari perhatian Presiden dan para pembantunya,” jelasnya.
Kalimat ini penting dibaca dua kali. Ari secara implisit mengakui ada persepsi publik yang selama ini menempel pada Gibran sebagai sosok pasif, dan blusukan-blusukan ini adalah upaya sadar untuk membalikkan persepsi itu. Ini bukan analisis netral soal kerja pemerintahan, ini analisis soal rebranding politik seorang wakil presiden muda yang sejak awal menjabat memang terus disorot soal kapasitas dan legitimasinya.
Ada Substansi, Tapi Cukupkah untuk Mengubah Persepsi?
Untuk adil, langkah Gibran memang tidak berhenti pada foto-foto seremonial. Dalam kasus keracunan MBG, ia memastikan korban mendapat perawatan lanjutan di Medan atau Jakarta dengan biaya ditanggung pemerintah. Di Kalimantan, perhatiannya bahkan menyentuh satwa yang terdampak kebakaran, detail yang jarang muncul dari kunjungan kenegaraan pada umumnya.
Tapi substansi semacam ini, sebaik apa pun niatnya, akan selalu berjalan beriringan dengan pertanyaan soal motif politik di baliknya, terutama bagi sosok yang jabatannya sejak awal lahir dari kontroversi hukum dan terus dibayangi keraguan publik soal kapasitasnya memimpin. Satu atau dua kunjungan mungkin bisa dibaca sebagai kepedulian tulus. Tapi ketika pola itu terus berulang tepat di momen presiden tidak ada di dalam negeri, publik berhak mempertanyakan apakah ini strategi membangun rekam jejak kerja, atau strategi membangun panggung pribadi.
Yang jelas, dalam beberapa pekan terakhir Gibran juga menemui keluarga petugas yang gugur menangani karhutla, sekaligus meminta maaf kepada warga Kalimantan atas kondisi udara yang belum pulih. Konsistensi pola ini ke depan akan jadi ujian sesungguhnya, apakah ini memang perubahan gaya kepemimpinan yang genuine, atau sekadar taktik sementara yang akan meredup begitu sorotan media beralih ke isu lain.
