BALINEWS.ID – Baru beberapa hari lalu, Dodhy Hardiyanto mengumumkan Kangen Band resmi bubar sambil menyinggung “kezaliman” yang katanya sudah lama dipendam. Sekarang, lewat unggahan Instagram yang sama, ia justru minta maaf dan bilang semuanya sudah baikan. Secepat itu.
Ini bukan sekadar plot twist manis buat penggemar. Ini pola yang perlu dibaca lebih kritis: bagaimana sebuah band yang sudah eksis lebih dari dua dekade, sempat vakum vokalis hampir sepuluh tahun, dan membesarkan nama lewat lagu-lagu yang jadi soundtrack generasi 2000-an, bisa mengambil keputusan sebesar “bubar” secara sepihak, lalu membatalkannya dalam hitungan hari seolah itu cuma salah paham kecil di grup WhatsApp keluarga.
Keputusan yang Diambil Sendiri, Dibatalkan Bersama
Yang menarik untuk dikritisi, pengumuman bubar kemarin murni keluar dari mulut Dodhy sendiri, lengkap dengan larangan keras bagi personel lain membawakan lagu ciptaannya. Sementara Andika Mahesa, sang vokalis, waktu itu mengaku benar-benar tidak tahu apa-apa, bahkan sempat bilang baru saja tampil bareng Dodhy di Hong Kong empat hari sebelumnya.
Sekarang, di unggahan permintaan maaf ini, narasinya berubah jadi “kami sepakat,” seolah keputusan bubar itu tadinya juga hasil mufakat bersama. “Setelah melalui diskusi yang panjang, melelahkan, dan penuh emosi, akhirnya kami kembali duduk bersama,” tulis Dodhy.
Pertanyaannya sederhana: kalau memang butuh diskusi panjang untuk memutuskan kembali bersama, kenapa keputusan bubarnya sendiri tidak melalui proses yang sama? Ini yang membuat publik berhak skeptis, bukan soal apakah mereka baikan atau tidak, tapi soal bagaimana keputusan sebesar itu bisa diambil sepihak lalu dibatalkan tanpa penjelasan detail soal apa sebenarnya “kezaliman” yang sempat disebut-sebut.
Kata “Kezaliman” Menguap Begitu Saja
Ini yang paling layak disorot. Kata “kezaliman” yang sempat jadi alasan utama pembubaran, kini sama sekali tidak disinggung lagi. Tidak ada klarifikasi soal apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang dituduh berbuat zalim, atau bagaimana persoalan itu diselesaikan. Yang ada cuma kalimat umum soal “perbedaan dan kekurangan yang ada.”
Kalau memang ada masalah serius yang membuat seorang founder sampai rela membubarkan band yang membesarkan namanya sendiri, publik dan penggemar yang selama ini setia berhak tahu lebih dari sekadar permintaan maaf berbunga-bunga. Menghapus persoalan tanpa penjelasan bukan penyelesaian, itu cuma penundaan konflik yang sama untuk meletus lagi di kemudian hari.
Penggemar Dijadikan Alasan Rujuk, Tapi Tidak Pernah Diberi Kejelasan
Dodhy menulis, “Kangen Band bukan hanya tentang kami yang berada di atas panggung. Kangen Band adalah tentang kalian semua yang tumbuh bersama lagu-lagu kami.” Kalimat ini terdengar manis, tapi juga ironis kalau ditelaah lebih jauh.
Kalau memang band ini “milik” penggemar sebesar yang diklaim, semestinya penggemar juga berhak dapat kejelasan, bukan cuma drama pengumuman bubar yang bikin panik, lalu tiba-tiba disusul pengumuman baikan tanpa penjelasan substansial. Cara komunikasi seperti ini justru berisiko membuat publik menganggap remeh setiap pengumuman besar dari band ini ke depannya, karena preseden yang baru saja terjadi: keputusan besar bisa berubah dalam hitungan hari tanpa alasan yang benar-benar transparan.
Sampai sekarang, publik masih menunggu apakah kejelasan sebenarnya akan pernah diungkap, atau drama ini memang sengaja dibiarkan menggantung sebagai bagian dari dinamika yang katanya “tidak mungkin begitu saja dihapus” dari perjalanan panjang Kangen Band.
