BALINEWS.ID – Arab Saudi terpaksa membatalkan dan menunda sejumlah pengiriman minyak mentah ke kilang-kilang di Eropa setelah jalur pipa utama East-West lumpuh akibat serangan pekan lalu, memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus $120 per barel, menurut sejumlah sumber di pasar energi dan data pelacakan maritim.
Pipa East-West, yang membentang dari ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi menuju pelabuhan ekspor Yanbu di Laut Merah, berhenti beroperasi sejak serangan pada 10 September yang dituduhkan kepada kelompok milisi bersenjata di Irak. Dengan kapasitas alir hingga 7 juta barel per hari, pipa tersebut selama ini menjadi jalur alternatif utama Riyadh untuk menghindari Selat Hormuz, rute pelayaran yang telah menjadi titik rawan konflik selama enam bulan terakhir.
Saudi Aramco, perusahaan energi milik negara, tidak memberikan komentar resmi ketika dimintai tanggapan mengenai kondisi cadangan di pelabuhan Yanbu.
Kekurangan Pasokan yang Cepat Memburuk
Menurut seorang sumber di pasar energi, cadangan minyak mentah yang tersisa di Yanbu diperkirakan hanya cukup memenuhi kebutuhan ekspor selama lima hari. Data pelacakan maritim dari Vortexa menunjukkan tidak ada satu pun kargo minyak mentah Saudi yang berangkat dari pelabuhan tersebut sejak 11 September.
Lembaga analisis pasar Argus melaporkan setidaknya tiga kilang di Eropa telah menerima pemberitahuan bahwa kargo yang dijadwalkan tiba akhir September ditunda hingga November. Dua perusahaan penyulingan lain, menurut laporan yang sama, bersiap menerima pembatalan serupa terkait pasokan September — kontras dengan proyeksi Agustus yang masih memperkirakan Aramco mampu memenuhi seluruh volume kontraktualnya.
Seorang sumber pasar memperkirakan setiap jadwal kargo Saudi yang direncanakan berangkat pada sepuluh hari terakhir September kini berisiko tinggi dibatalkan.
Dalam kondisi normal, minyak yang diekspor dari Yanbu dikirim melintasi Laut Merah menuju terminal Ain Sukhna di Mesir, sebelum dipompa melalui pipa SUMED berkapasitas 2,5 juta barel per hari ke terminal Sidi Kerir di pesisir Mediterania. Menurut data yang dilansir Al Jazeera, rata-rata kedatangan minyak di Ain Sukhna pada dua pekan pertama September berada di kisaran 1,4 juta barel per hari, sementara ekspor dari Sidi Kerir mencapai 1,95 juta barel per hari pada periode yang sama.
Polandia Mencari Pasokan Pengganti
Terhentinya pasokan dari Saudi memaksa sejumlah pelanggan utama kerajaan tersebut mencari alternatif. Orlen, perusahaan penyulingan asal Polandia, telah bergerak di pasar spot untuk membeli minyak mentah pengganti dari kawasan Laut Utara, termasuk varian Grane, Johan Sverdrup, dan Johan Castberg, menurut sejumlah sumber pedagang. Perusahaan itu juga mencari penawaran pasokan WTI Midland dari Amerika Serikat serta CPC Blend dari Kazakhstan.
Langkah tersebut diambil setelah setidaknya empat jadwal penyewaan kapal tanker untuk pengiriman September dari rute Sidi Kerir menuju pelabuhan Gdansk di Polandia gagal terlaksana.
Belum ada kepastian dari otoritas Saudi mengenai kapan jalur pipa East-West dapat kembali beroperasi secara normal.
