Slot Header 970×90

Pojok Narasi

SARASWATI: DARI RITUAL MENUJU BUDAYA LITERASI

Pojok Narasi Penulis: AAGN Ari Dwipayana

31 Oktober 2026 pukul 08.46 WITA · 4 menit baca

SARASWATI: DARI RITUAL MENUJU BUDAYA LITERASI

Oleh : AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud

Saniscara Umanis Wuku Watugunung merupakan rerainan jagat yang mengingatkan kita tentang pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan ibarat sesuluh, pelita yang menerangi manusia dari kegelapan (awidya). Tanpa pengetahuan, manusia akan kehilangan arah dalam mencapai tujuan tertinggi beragama, Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma, yakni kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia serta pembebasan rohani.

Dalam tradisi Hindu Bali, Hari Suci Saraswati dirayakan dengan memuja Ida Sang Hyang Aji Saraswati sebagai manifestasi Tuhan dalam aspek ilmu pengetahuan. Lontar dan buku-buku milik keluarga diturunkan, dibersihkan, lalu dihaturkan upakara, terutama Banten Saraswati yang memiliki simbol khas, salah satunya cicak.

Saraswati dirayakan setiap 210 hari atau dua kali dalam satu tahun kalender Bali. Tradisi ini dapat dimaknai sebagai cara leluhur kita mengingatkan pentingnya pesan “Taki-takining sewaka guna widya”, yakni kesungguhan mengabdikan diri untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang berguna. Pesan tersebut setidaknya mengandung empat ajaran penting.

Pertama, Taki-takining Sewaka Guna Widya, memberi pesan jadilah manusia pembelajar. Manusia tidak boleh berhenti belajar. Tidak ada batas usia maupun waktu untuk menuntut ilmu. Pengetahuan ibarat "samudra tan petepi", lautan tanpa tepi yang tidak pernah habis dijelajahi.

Karena itu, semakin berpengetahuan seseorang, seharusnya semakin rendah hati dirinya. Kesadaran bahwa masih banyak yang belum diketahui merupakan fondasi seorang pembelajar sejati. Sebaliknya, merasa paling tahu dan paling benar justru menjadi awal dari kemunduran intelektual.

Kedua, Guna, Gina dan Gunakaya. Kejarlah ilmu yang berguna bagi kehidupan. Ilmu pengetahuan bukan sekadar untuk diketahui, dihafalkan, atau dipamerkan, melainkan harus diamalkan untuk kemaslahatan kehidupan.

Pengetahuan akan menjadi "nirdon", sia-sia, apabila tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Ilmu harus memiliki guna, kegunaan yang dapat dikembangkan menjadi Gina dan Geginan, keterampilan dan kemampuan berkarya, hingga menghasilkan Gunakaya, manfaat dan kesejahteraan.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu bukan semata-mata seberapa banyak yang diketahuinya, melainkan seberapa besar manfaat pengetahuannya bagi kehidupan.

Ketiga, Wiweka Widya, kembangkanlah nalar kritis. Belajar bukan sekadar mengumpulkan informasi, menghafal, atau meniru pendapat orang lain. Manusia dianugerahi akal budi untuk mempertanyakan, menguji, membandingkan, dan mengembangkan pengetahuan.

Jangan menjadi seperti burung beo yang hanya pandai mengulang perkataan tanpa memahami maknanya. Pengetahuan harus diolah melalui proses berpikir kritis, pengujian sumber, dan keterbukaan terhadap pandangan yang berbeda.

Di sinilah pentingnya "wiweka", kemampuan membedakan antara pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan dan sekadar klaim yang tampak meyakinkan.

Keempat, Jnana Wicaksana, dari pengetahuan menuju kebijaksanaan. Puncak dari ilmu pengetahuan bukanlah kepintaran, melainkan kebijaksanaan. Orang pintar belum tentu bijaksana. Kepintaran dapat digunakan untuk membenarkan kepentingan dan ego pribadi, sedangkan kebijaksanaan menuntut kemampuan menempatkan pengetahuan dalam kerangka nilai-nilai kebajikan.

Wicaksana tidak cukup hanya mengandalkan manah, pikiran, tetapi juga budhi, kemampuan pertimbangan luhur yang dibimbing oleh kesadaran moral dan hati nurani.

Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak boleh menjadikan manusia sombong, merasa paling suci, atau mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran tunggal.

Dari Ritual Saraswati Menuju Budaya Literasi

Sangat disayangkan apabila Hari Suci Saraswati hanya berhenti sebagai perayaan ritual. Kita rajin menghaturkan banten kepada buku dan lontar, tetapi belum tentu rajin membaca, mengkaji, dan memahami isinya.

Penghormatan terbaik kepada Ida Sang Hyang Aji Saraswati adalah membangun budaya literasi. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan juga mengamati, memahami, menganalisis secara kritis, menguji sumber, dan akhirnya memberikan penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tantangan ini semakin penting di tengah berkembangnya budaya berpikir instan. Internet dan kecerdasan buatan (AI) memberikan kemudahan luar biasa untuk memperoleh informasi. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis menjadikan seseorang berpengetahuan, apalagi bijaksana.

Kini muncul gejala orang yang tampak serba tahu karena rajin mengutip sumber sekunder dari internet atau jawaban AI, tetapi tidak melakukan verifikasi, triangulasi sumber, maupun pembacaan terhadap referensi primer.

Gejala ini juga terlihat dalam perbincangan mengenai agama, tradisi, dan dresta. Seseorang yang sering berbicara tentang agama dan dresta dengan mudah dapat membangun citra sebagai pejuang tradisi. Padahal, belum tentu argumentasinya dibangun dari penguasaan sastra, pemahaman sejarah, dan pengetahuan mendalam mengenai tradisi yang dibelanya.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika pengetahuan yang terbatas itu disertai keberanian mengklaim kebenaran tunggal, menyalahkan pandangan berbeda, bahkan merasa memiliki otoritas untuk menentukan siapa yang paling benar dalam beragama.

Dalam keadaan demikian, pengetahuan tidak lagi menjadi sesuluh, tetapi justru menjadi alat untuk memelihara ego dan kesombongan.

Belajar dari Runtuhnya Watugunung

Momentum Saraswati tidak dapat dilepaskan dari kisah Watugunung. Dalam mitologi Bali, Prabu Watugunung digambarkan sebagai raja yang memiliki kesaktian dan kekuasaan besar, tetapi akhirnya mengalami keruntuhan karena kesombongan dan ketidakmampuannya mengendalikan keinginan.

Kisah Watugunung memberikan pelajaran bahwa kesaktian tanpa kebijaksanaan dapat membawa kehancuran. Demikian pula pengetahuan tanpa wiweka dan budhi dapat melahirkan manusia yang merasa paling pintar, paling benar, dan paling berkuasa atas tafsir kebenaran.

Karena itu, Saraswati seharusnya menjadi momentum untuk meruntuhkan ego intelektual, bukan justru merayakan kesombongan pengetahuan. Jangan sampai kita rajin memuja Saraswati, tetapi malas membaca. Fasih berbicara tentang sastra dan dresta, tetapi miskin referensi. Pandai mengutip, tetapi lemah dalam menguji. Merasa paling benar, tetapi kehilangan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, makna terdalam Hari Suci Saraswati bukan sekadar memuliakan buku dan lontar sebagai simbol pengetahuan, melainkan menghidupkan nilai-nilai pengetahuan dalam pikiran, perkataan, dan tindakan.

Saraswati mengajarkan kita untuk terus belajar, menjadikan ilmu bermanfaat, mengembangkan nalar kritis, dan mencapai kebijaksanaan. Sebab, tujuan tertinggi ilmu pengetahuan bukan menjadikan manusia merasa paling tahu, melainkan menyadarkan manusia tentang betapa banyak yang belum diketahuinya.

Semoga Ida Sang Hyang Aji Saraswati senantiasa menganugerahkan kejernihan pikiran, ketajaman wiweka, dan keluhuran budhi kepada kita semua.*

AAGN Ari Dwipayana
AAGN Ari DwipayanaPenulis Narasi

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIPOL UGM

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.