TABANAN, BALINEWS.ID – Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 resmi berakhir setelah berlangsung selama tiga hari, 28–30 Agustus 2026. Mengusung tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya”, festival ditutup di Wantilan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, Minggu (30/8/2026).
Penutupan festival menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk menegaskan kembali komitmen menjadikan kegiatan seni, budaya, dan kuliner sebagai bagian dari strategi memperkuat daya tarik pariwisata daerah.
Bupati Tabanan yang diwakili Wakil Bupati I Made Dirga mengapresiasi konsistensi pelaksanaan Tanah Lot Art and Food Festival. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan hiburan bagi masyarakat dan wisatawan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai kekayaan lokal Tabanan.
Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung disuguhkan beragam pertunjukan seni dan budaya serta kuliner tradisional. Keberagaman tersebut dinilai menjadi gambaran kekayaan potensi yang dimiliki Tabanan.
“Selama tiga hari ini kita telah menyaksikan berbagai pertunjukan seni, budaya dan kuliner tradisional yang luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa daerah kita sangat kaya akan seni, budaya, kuliner tradisional dan berbagai potensi menarik lainnya,” ujar Dirga.
Menurutnya, Tanah Lot memiliki posisi strategis dalam pengembangan pariwisata Tabanan. Destinasi yang telah dikenal hingga mancanegara tersebut memiliki panorama alam sekaligus nilai budaya dan spiritual yang menjadi warisan leluhur.
Karena itu, keberadaan festival diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian kawasan Tanah Lot dan lingkungan sekitarnya.
Tema “Samudra Sakti Raksanam Jagat Samyaya” yang dimaknai sebagai menjaga kekuatan samudra menuju keharmonisan dan keseimbangan alam semesta juga menjadi pesan penting dalam festival tahun ini.
Dirga menegaskan, laut merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
“Event ini bukan hanya sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan, memperkuat identitas budaya kita serta memperkenalkan kekayaan warisan nenek moyang kepada generasi muda dan dunia,” katanya.
Ia menilai festival juga memiliki peran strategis dalam memperkenalkan seni, budaya, adat istiadat, kuliner dan kearifan lokal Tabanan kepada wisatawan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan pembangunan pariwisata yang berbasis budaya.
Pemkab Tabanan berharap Tanah Lot Art and Food Festival dapat terus digelar secara berkelanjutan setiap tahun. Konsistensi penyelenggaraan dinilai penting untuk membangun karakter festival sekaligus memperkuat promosi DTW Tanah Lot.
“Saya sangat berharap event ini bisa dilaksanakan secara konsisten setiap tahun. Dibutuhkan kerja keras, kreativitas dan inovasi baru agar kunjungan wisata bisa terus meningkat dan DTW Tanah Lot semakin terkenal,” tegas Dirga.
Penutupan festival turut dihadiri jajaran Forkopimda Tabanan atau yang mewakili, anggota DPRD Tabanan, Sekretaris Daerah beserta para asisten, kepala perangkat daerah, para camat se-Kabupaten Tabanan, Penglingsir Puri Kediri, Manajer DTW Tanah Lot, tokoh masyarakat serta undangan lainnya.
Berakhirnya Tanah Lot Art and Food Festival VII diharapkan tidak menjadi akhir dari geliat seni dan budaya di kawasan tersebut. Festival diharapkan menjadi pijakan untuk menghadirkan inovasi baru sekaligus memperkuat Tanah Lot sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menarik secara alamiah, tetapi juga kaya akan pengalaman budaya dan kearifan lokal. (*)
