OLEH: AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud
BALINEWS - Dalam tradisi Hindu Bali, hari suci Saraswati bukanlah perayaan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian rerainan jagat yang sarat dengan pesan filosofis. Rangkaian itu dimulai dari Watugunung Runtuh, Sandang Wangke, Budi Urip, Saraswati, Banyu Pinaruh, Soma Ribek, Sabuh Mas, hingga Pagerwesi. Setiap tahapan memiliki makna yang saling bertaut, terutama dalam perjalanan manusia mencari, memperoleh, dan mengamalkan ilmu pengetahuan.
Salah satu tahapan penting adalah Banyu Pinaruh, yang jatuh pada Redite Paing Wuku Sinta, sehari setelah hari suci Saraswati. Hari ini sekaligus menandai pergantian dari Wuku Watugunung menuju Wuku Sinta. Dalam sistem Wariga Bali, Wuku Sinta merupakan wuku pertama dari 30 wuku yang membentuk satu siklus pawukon.
Pergantian wuku ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Setelah melewati Wuku Watugunung, yang dalam mitologi dikaitkan dengan keruntuhan keangkuhan dan kesombongan, manusia memasuki Wuku Sinta sebagai permulaan baru.
Ketika mengawali Wuku Sinta, para leluhur kita hendak mengingatkan bahwa perjalanan memperoleh pengetahuan harus dimulai dengan meruntuhkan ego, membersihkan diri, dan menjernihkan pikiran.
Air dan Pengetahuan
Secara etimologis, Banyu Pinaruh dapat dimaknai melalui dua kata. "Banyu" berarti air, sedangkan "Pinaruh" dikaitkan dengan "pangewruh", yang berarti pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian, Banyu Pinaruh secara simbolis dapat dimaknai sebagai air pengetahuan.
Pertautan antara air dan pengetahuan bukanlah sesuatu yang kebetulan. Keduanya memiliki sifat yang sangat dekat. Air memiliki kekuatan membersihkan dan menyucikan. Kekotoran atau "mala" yang melekat pada tubuh dapat dibersihkan dengan air. Demikian pula pengetahuan memiliki kemampuan membersihkan manusia dari kegelapan pikiran atau "awidya", Melalui pengetahuan, manusia dibebaskan dari kebodohan, prasangka, kesesatan berpikir, dan belenggu ketidaktahuan.
Air juga memiliki sifat mengalir. Ia bergerak mengikuti ruang, melewati berbagai rintangan, dan memberi kehidupan di sepanjang perjalanannya. Demikian pula pengetahuan seharusnya terus mengalir, dibagikan, dan memberi manfaat kepada siapa pun tanpa dibatasi oleh sekat-sekat sosial.
Air merupakan bagian dari siklus alam yang terus memperbarui dirinya. Demikian pula pengetahuan tidak pernah mencapai titik akhir. Semakin dalam seseorang belajar, semakin disadari betapa luasnya samudra pengetahuan yang belum dijelajahi.
Dalam tradisi Bali dikenal ungkapan "samudra tan petepi", samudra tanpa tepi. Itulah hakikat pengetahuan. Tidak ada manusia yang dapat mengklaim telah mengetahui segalanya.
Penyucian Sekala dan Niskala
Pemaknaan filosofis tersebut diwujudkan dalam tradisi Banyu Pinaruh melalui penyucian diri secara "sekala" dan "niskala".
Secara sekala, masyarakat melakukan penyucian diri dengan mandi di berbagai sumber air, seperti sungai, pancoran, kelebutan, pantai, dan campuhan. Air menjadi sarana untuk membersihkan tubuh sekaligus mengingatkan manusia tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan jasmani.
Secara niskala, penyucian dilakukan melalui ritual penglukatan, termasuk dengan memohon tirta penglukatan kepada sang sadhaka. Ritual ini dimaknai sebagai upaya membersihkan kekotoran batin, menjernihkan pikiran, dan membebaskan diri dari berbagai kecenderungan negatif.
Dalam sejumlah tradisi keluarga di Bali, rangkaian Banyu Pinaruh juga dilengkapi dengan menikmati Nasi Bira atau Nasi Yasa sebagai bagian dari kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dengan demikian, Banyu Pinaruh tidak semata-mata merupakan ritual mandi atau membersihkan tubuh. Lebih jauh, ia merupakan momentum untuk melakukan penyucian diri secara menyeluruh, baik jasmani maupun rohani.
Pengetahuan Harus Berlandaskan Kesucian
Ada dua pesan penting yang dapat direfleksikan dari perayaan Banyu Pinaruh.
Pertama, pengetahuan harus selalu diikat dengan kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dalam ajaran Hindu, prinsip ini dikenal sebagai Tri Kaya Parisudha, yakni manacika (berpikir yang baik), wacika (berkata yang baik), dan kayika (berbuat yang baik).
Pengetahuan yang tidak dilandasi kesucian dan kebijaksanaan justru dapat menjadi instrumen yang merusak kehidupan. Sejarah peradaban manusia memperlihatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan moralitas. Pengetahuan dapat digunakan untuk menciptakan obat yang menyelamatkan kehidupan, tetapi juga dapat digunakan untuk mengembangkan senjata pemusnah massal. Teknologi digital dapat memperluas akses pengetahuan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan kebohongan, manipulasi, dan kebencian.
Karena itu, persoalan mendasar dalam pengembangan ilmu pengetahuan bukan hanya seberapa banyak yang diketahui manusia, melainkan untuk tujuan apa pengetahuan itu digunakan.
Pengetahuan tanpa kesucian dapat melahirkan kecerdasan yang merusak. Sebaliknya, pengetahuan yang disertai kebijaksanaan akan menjadi sumber kebaikan dan jagadhita bagi kehidupan.
Di sinilah relevansi Banyu Pinaruh dalam kehidupan modern. Semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dipikulnya. Orang berpengetahuan tidak semestinya menggunakan kecerdasannya untuk membenarkan kesalahan, memanipulasi kebenaran, atau merendahkan orang lain. Pengetahuan seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual.
Belajar dari Sifat Air
Kedua, seorang pembelajar hendaknya meneladani sifat-sifat air. Air memiliki sifat menyejukkan, mendinginkan, dan mengalir. Dalam kehidupan sosial, sifat ini dapat menjadi teladan bagi manusia berpengetahuan.
Ilmu pengetahuan seharusnya menghadirkan kesejukan di tengah kehidupan yang penuh ketegangan. Orang berpengetahuan mestinya mampu menjernihkan persoalan, bukan justru memperkeruh keadaan. Ia semestinya menjadi sumber pencerahan, bukan penyebar kebingungan dan permusuhan.
Air juga mengajarkan kelenturan. Ia dapat menyesuaikan diri dengan ruang yang dilaluinya tanpa kehilangan hakikatnya. Demikian pula seorang pembelajar harus memiliki keterbukaan terhadap gagasan baru, kesediaan menerima kritik, dan kemampuan memperbarui pengetahuan.
Namun, kita juga harus menyadari bahwa air memiliki dua sisi kekuatan. Dalam perspektif simbolis Hindu Bali, air dapat menghadirkan sifat Dewa yang memberi kehidupan dan kesejahteraan, tetapi juga dapat menampakkan kekuatan Bhuta yang destruktif.
Air yang terkelola dengan baik akan menghidupi sawah, menyuburkan tanaman, dan memenuhi kebutuhan manusia. Sebaliknya, air yang tidak terkendali dapat mendatangkan banjir, erosi, dan malapetaka. Demikian pula pengetahuan. Ia dapat menjadi kekuatan yang membangun peradaban, tetapi juga dapat menjadi kekuatan penghancur apabila kehilangan kendali etis.
Karena itu, seorang pembelajar tidak cukup hanya menguasai pengetahuan. Ia juga harus memiliki kemampuan mengendalikan diri, menimbang akibat dari tindakannya, dan memastikan bahwa pengetahuannya digunakan untuk menjaga kehidupan.
Menjadi Manusia Pembelajar
Banyu Pinaruh pada akhirnya mengajak kita merefleksikan kembali hakikat pendidikan dan perjalanan menjadi manusia pembelajar.
Pendidikan bukan sekadar proses mengisi pikiran dengan informasi atau memperoleh gelar akademik. Pendidikan sejatinya merupakan proses panjang untuk membersihkan pikiran dari awidya, membentuk karakter, menumbuhkan kebijaksanaan, dan memperhalus budi pekerti.
Dalam konteks inilah ajaran Taki-takining sewaka guna widya, kesungguhan mengabdikan diri untuk menuntut ilmu pengetahuan, menemukan relevansinya.
Belajar adalah perjalanan sepanjang hayat. Tidak ada batas usia untuk belajar. Tidak ada pula alasan bagi orang yang telah memiliki pengetahuan untuk berhenti memperbarui dirinya.
Banyu Pinaruh juga mengingatkan bahwa proses belajar harus selalu disertai kesediaan untuk membersihkan diri dari keangkuhan intelektual. Sebab, semakin luas pengetahuan seseorang, semestinya semakin besar pula kesadarannya tentang keterbatasan dirinya.
Dari Watugunung Runtuh menuju Banyu Pinaruh, kita diajak menjalani perjalanan spiritual yang sangat bermakna: meruntuhkan ego, menerima cahaya pengetahuan, lalu menyucikan pengetahuan agar menjadi sumber kebijaksanaan.
Pada akhirnya, air dan pengetahuan mengajarkan pesan yang sama: keduanya harus terus mengalir, memberi kehidupan, dan membawa kesejukan.
Jangan sampai pengetahuan yang seharusnya menjadi tirta pangurip Bhuwana, air kehidupan, justru berubah menjadi kekuatan yang menghancurkan kehidupan.*


