Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu: Film Sederhana yang Membuat Penonton Ingin Menelepon Ibu

film Ibu Bagaimana Aku Tanpamu
Foto Poster Film Ibu Bagaimana Aku Tanpamu

BALINEWS.ID – Kamu nonton film karena apa?

Karena pemainnya? Karena alur ceritanya? Atau karena rekomendasi dan referensi dari orang lain?

Sabtu 19 September 2026 kemarin, Balinews ID berkesempatan hadir meliput gala premier film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Sebagai pendahuluan, tulisan ini bukan review dan bukan penilaian atas sebuah karya. Ini sudut pandang seorang bapak milenial yang kebetulan punya anak perempuan, yang duduk di kursi penonton lalu pulang dengan banyak hal di kepala.

Film ini merupakan adaptasi dari film Korea. Seperti adaptasi pada umumnya, banyak hal harus disesuaikan supaya ceritanya lebih dekat dengan kehidupan kita. Ada beberapa hal yang paling menarik perhatian saya.

Lokasi yang Sederhana, Cerita yang Dekat

Sepanjang film, tempat yang dipakai terasa akrab: sekolah, rumah, tempat balet, dan butik. Pengambilan gambar memang didominasi lokasi-lokasi itu.

Anehnya, film ini tidak terasa membosankan.

Justru karena lokasinya sederhana, ceritanya terasa lebih dekat dengan keseharian. Tidak ada latar megah yang membuat kita merasa sedang menonton hidup orang lain. Rasanya lebih seperti mengintip ruang tamu tetangga, atau mungkin ruang tamu kita sendiri.

BACA JUGA :  Melalui Rasayatra, Pramana Experience Hidupkan Kembali Warisan Kuliner Majapahit

Orang Tua, Anak, dan Keras Kepala yang Sama-sama Ada

Hubungan orang tua dan anak mungkin bagian yang paling mudah membuat penonton mengangguk sendiri.

Setiap keluarga punya persoalan masing-masing. Cara mendidik berbeda, karakter anak berbeda, dan tantangannya pun tidak sama. Tapi ada satu hal yang rasanya sering kita temui: keras kepala seorang anak. Orang tua merasa sudah melakukan yang terbaik, sementara anak merasa dirinya tidak dimengerti. Di titik itulah konflik muncul.

Sebagai bapak yang punya anak perempuan, beberapa adegan membuat saya berpikir. Suatu hari nanti anak saya juga akan sampai di fase ketika ia punya dunianya sendiri. Mungkin saat itu, sayalah yang harus belajar memahami.

Foto Suasana gala premier film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.
Foto Suasana gala premier film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. (Balinews)

Tiga Lagu, Satu yang Paling Menusuk

Musik menjadi salah satu kekuatan yang membuat film ini terasa relate. Pemilihan lagunya pas dengan adegan yang menyertainya. Ada adegan yang sebenarnya sederhana, tetapi begitu bertemu musik, kenangan masa lalu seperti ikut dipanggil kembali. Tanpa terasa, mata mulai berkaca-kaca.

Lagu yang hadir antara lain “Hingga Akhir Waktu”, “Kasih Ibu”, dan “Tentangmu, Tenangku” dari Anggis Devaki. Kalau harus memilih, “Kasih Ibu” yang paling menusuk.

BACA JUGA :  Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Pelarangan Film “Pesta Babi”, Sebut Langgar Konstitusi

Dulu, waktu kecil, lagu itu mungkin terdengar biasa saja. Tapi Ketika kita sudah dewasa dan mulai jauh dari orang tua, terutama dari seorang ibu, lagu yang dulu terasa sederhana itu tiba-tiba punya makna lain. Ada kerinduan. Ada kenangan. Ada rasa bersalah. Dan ada satu perasaan yang sering terlambat kita sadari: betapa besarnya pengorbanan seorang ibu.

Pemeran Pendukung dan Butik yang Nyata

Para pemeran pendukung punya porsinya masing-masing. Ivan Gunawan, Praz Teguh, dan Sara Wijayanto tidak tampil berlebihan, tapi cukup memberi warna dan melengkapi cerita.

Dari semua nama itu, kisah Ivan Gunawan punya cerita tersendiri di balik layar.

Di film ini, Igun, sapaan akrabnya, memerankan Prince, desainer fesyen sukses dengan butik yang laris dan seorang asisten bernama Stella. Setelah hampir 25 tahun berkarier di dunia hiburan, ia mengaku baru kali ini merasa benar-benar main film. “Aku baru merasa main film sih di film ini,” ujarnya.

Wajar kalau ia merasa begitu. Karakter Prince nyaris cermin dari kehidupan aslinya sebagai pemilik butik. Kedekatan itu membuat Igun tidak hanya menghafal dialog, tapi juga ikut membantu Marsha Timothy memahami dunia seorang desainer, mulai dari cara memotong bahan sampai teknik draping. Menurut Igun, Marsha banyak belajar.

BACA JUGA :  Mualaf Center Cabut Sertifikat Mualaf, Richard Lee Beri Tanggapan

Totalitasnya tidak berhenti di situ. Igun mengizinkan koleksi dan perlengkapan dari butik miliknya dipakai untuk kebutuhan produksi. Ia bercerita, “Om Erwin dan tim juga ngerampok setengah dari butik aku,” mulai dari bahan, majalah, sampai kain-kain. Alasannya sederhana: banyak film punya set butik yang terasa kurang butik, dan ia mengaku “cukup detail, cukup bawel” soal itu.

Artinya, butik yang kita lihat di layar bukan sekadar properti. Sebagian isinya memang butik sungguhan.

Dan mungkin di situlah letak benang merah film ini. Dari lokasi yang akrab, konflik keluarga yang dekat, musik yang memanggil kenangan, sampai butik yang diambil dari kehidupan nyata, semuanya bekerja untuk satu tujuan: membuat cerita terasa dekat.

Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai Kamis, 24 September 2026. Kalau ibu yang melahirkanmu masih ada, mungkin kamu tidak perlu menunggu sampai film ini tayang. Teleponlah. Datanglah. Dan ucapkan satu kalimat yang mungkin terlalu jarang terdengar: “Terima kasih, Bu.”

 

Laporan: Rushel Ambarita (Balinews Jakarta)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya