BALINEWS.ID – Gunung Merapi belum benar-benar tenang. Dalam pemantauan 24 jam pada Minggu, 13 September 2026, aktivitas vulkaniknya masih cukup tinggi dan Status Level III atau Siaga tetap diberlakukan.
Yang paling mencolok adalah guguran lava pijar. Petugas mencatat 17 kali guguran ke arah barat daya, meluncur melalui alur Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimumnya mencapai sekitar 2 kilometer dari puncak.
Menurut laporan BPPTKG yang disusun Suratno dan Yulianto, aktivitas tersebut menunjukkan suplai magma di dalam gunung masih berlangsung. Kondisi ini juga membuat potensi awan panas guguran tetap perlu diwaspadai.
Bukan cuma lava yang bergerak. Dalam periode yang sama, Merapi mencatat 88 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 41 milimeter. Ada pula 59 gempa hybrid atau fase banyak, serta satu gempa tektonik jauh.
Angka-angka tersebut memberi gambaran bahwa aktivitas di tubuh Merapi masih berlangsung secara intensif.
Dari sisi visual, puncak Merapi sempat terlihat jelas sebelum kembali tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih dengan tekanan lemah teramati setinggi 25 hingga 200 meter di atas puncak.
Suhu udara di kawasan gunung berada pada kisaran 17,8 hingga 28 derajat Celsius, dengan kelembapan 34,9 hingga 79 persen. Angin bertiup lemah ke arah timur.
Yang perlu diperhatikan warga terutama berada di sektor selatan hingga barat daya. Sungai Boyong masih berpotensi terdampak awan panas hingga 5 kilometer, sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga 7 kilometer.
Di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat mencapai radius 3 kilometer.
Ada satu hal yang membuat situasi semakin perlu diperhatikan: hujan.
Saat hujan turun di sekitar puncak, material vulkanik dapat terbawa menjadi lahar dan meningkatkan risiko di sepanjang alur sungai. Paparan abu vulkanik juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
Jadi, meski angka 17 guguran lava terdengar seperti sekadar statistik, bagi masyarakat yang tinggal di lereng Merapi, setiap guguran adalah pengingat bahwa gunung tersebut masih aktif dan belum keluar dari zona kewaspadaan.
