DENPASAR, BALINEWS.ID – Bali selama ini dikenal dengan aturan ketat terkait ketinggian bangunan. Regulasi yang membatasi tinggi bangunan maksimal setara pohon kelapa atau sekitar 15 meter menjadi bagian dari upaya menjaga harmoni lanskap dan nilai budaya Pulau Dewata. Namun, belakangan muncul wacana untuk merevisi aturan tersebut menjadi hingga 45 meter, memicu perdebatan di tengah masyarakat.
Di tengah polemik itu, Bali sebenarnya telah lama memiliki sejumlah bangunan dan struktur yang menjulang tinggi, bahkan melampaui batas yang selama ini dikenal publik. Keberadaan bangunan-bangunan ini tidak hanya berfungsi secara praktis, tetapi juga memberi kontribusi terhadap pariwisata dan identitas budaya Bali.
- Bangunan yang paling ikonik adalah Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Kabupaten Badung. Diresmikan pada 2018, patung ini memiliki tinggi mencapai 121 meter dan menjadi struktur buatan manusia tertinggi di Bali. GWK tidak hanya menjadi landmark, tetapi juga pusat pertunjukan seni dan budaya yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
- Bali juga memiliki Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali yang berlokasi di Desa Pegayaman, Buleleng. Menara setinggi 115 meter ini mulai dibuka pada akhir 2024. Fungsinya beragam, mulai dari pemancar sinyal komunikasi hingga destinasi wisata modern dengan fasilitas restoran putar dan planetarium. Kehadirannya menunjukkan perpaduan antara teknologi dan pariwisata di Bali Utara.
- Di Kota Denpasar, Monumen Bajra Sandhi di kawasan Renon berdiri dengan tinggi sekitar 45 meter. Monumen ini menjadi simbol perjuangan rakyat Bali sekaligus destinasi edukasi sejarah yang ramai dikunjungi wisatawan dan pelajar.
- Di sektor perhotelan, terdapat Hotel Bali Beach di Sanur, Denpasar Selatan, yang memiliki 11 lantai. Hotel ini tergolong tinggi dibandingkan rata-rata hotel di Bali yang umumnya hanya sekitar lima lantai. Lantai teratasnya difungsikan sebagai ballroom dengan panorama langsung ke pantai Sanur.
- Tak kalah tinggi, Hotel Grand Nikko di Kuta Selatan yang kini beralih pengelolaan ke Hilton juga menjadi contoh bangunan tinggi yang unik. Hotel ini memiliki total 14 lantai, namun dibangun mengikuti kontur tebing. Dari atas tebing, hanya sekitar empat lantai yang terlihat menjulang, sehingga tetap menjaga keserasian visual dengan lingkungan sekitar.
Kelima bangunan tersebut hingga kini menjadi bagian dari destinasi wisata yang terbuka untuk masyarakat luas. Selain memberikan nilai ekonomi, keberadaan mereka juga memperlihatkan bahwa Bali telah memiliki pengalaman dalam mengelola bangunan tinggi tanpa sepenuhnya mengabaikan aspek budaya dan estetika.
Wacana revisi batas ketinggian bangunan pun kini menjadi momentum untuk meninjau kembali keseimbangan antara pelestarian budaya dan kebutuhan pembangunan modern di Bali.
