GIANYAR, BALINEWS.ID – Semangat perempuan dalam merawat dan menghidupkan nilai-nilai budaya Bali kembali ditampilkan melalui pameran seni rupa bertajuk Bali Alive yang digelar komunitas perupa perempuan Mahalakshmi di kawasan bersejarah Goa Gajah. Pameran yang memasuki penyelenggaraan keenam ini berlangsung mulai 24 Mei hingga 24 Juni 2026.
Mengangkat tema “Bali Alive”, pameran tersebut menampilkan beragam karya yang merekam dinamika kehidupan Bali dari sudut pandang perempuan. Budaya, alam, spiritualitas, hingga aktivitas keseharian masyarakat menjadi inspirasi utama yang dituangkan para seniman dalam berbagai medium seni rupa.
Pendiri sekaligus konseptor Mahalakshmi, Aricadia, mengatakan tema tersebut menggambarkan Bali yang terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budayanya.
Menurutnya, pameran tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya seni, tetapi juga wadah bagi perempuan untuk berkontribusi dalam menjaga dan merefleksikan nilai-nilai budaya melalui kreativitas.
“Melalui Bali Alive, kami ingin menunjukkan bahwa seni perempuan tidak hanya menjadi sarana ekspresi pribadi, tetapi juga media untuk berbagi inspirasi dan menjaga keberlanjutan budaya Bali,” ujarnya.
Pameran dibuka secara resmi oleh perwakilan Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar. Acara pembukaan diawali dengan penampilan Tari Margapati oleh mahasiswa ISI Denpasar serta pembacaan puisi oleh Aricadia.
Sejumlah tokoh budaya turut hadir memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pameran tersebut, di antaranya budayawan senior Jean Couteau, sosiolog dan pemerhati perempuan Nazrina Zuryani, serta penulis asal Hawaii Garrett Kam.
Sebanyak 24 perupa perempuan ambil bagian dalam pameran ini dengan menampilkan karya-karya yang mencerminkan keberagaman perspektif dan pengalaman perempuan dalam memaknai Bali.
Selain pameran, Mahalakshmi juga menggelar sejumlah kegiatan pendukung yang melibatkan masyarakat. Salah satunya workshop melukis untuk anak-anak usia sekolah dasar yang dipandu seniman muda Kadek Ria Anna Utami.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 15 peserta dan menjadi bagian dari upaya mengenalkan seni rupa sejak dini. Kadek Ria bersama suaminya, Wayan Ginarsi, diketahui mengelola Kuler Studio yang selama ini aktif memberikan pendidikan seni kepada anak-anak, termasuk siswa sekolah luar biasa.
Tak hanya itu, selama pameran berlangsung juga digelar kegiatan On The Spot (OTS) atau plein air painting setiap hari Minggu. Kegiatan ini mengundang para seniman untuk melukis langsung di kawasan Goa Gajah dan berinteraksi dengan pengunjung.
Penyelenggaraan pameran mendapat dukungan dari Himpunan Seniman Bedulu yang selama ini mendorong Goa Gajah menjadi ruang kreatif bagi para seniman selain sebagai destinasi wisata budaya.
Ketua Himpunan Seniman Bedulu, Ketut Ardana Maiyana, menilai kehadiran pameran seni di kawasan cagar budaya dapat memperkuat fungsi Goa Gajah sebagai ruang apresiasi seni dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Pameran Bali Alive terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Pengunjung yang datang diimbau mengenakan kamen dan selendang sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian kawasan Goa Gajah. Dengan latar situs bersejarah yang sarat nilai spiritual dan budaya, pameran ini menjadi ruang dialog antara seni, perempuan, dan kehidupan Bali yang terus berkembang. (*)

