Makna Pandan Berduri yang Dipasang Sehari Sebelum Tumpek Wayang

Share:

Makna Pandan Berduri yang Dipasang Sehari Sebelum Tumpek Wayang
Makna Pandan Berduri yang Dipasang Sehari Sebelum Tumpek Wayang (sumber foto Pemkot Denpasar)
Makna Pandan Berduri yang Dipasang Sehari Sebelum Tumpek Wayang
Makna Pandan Berduri yang Dipasang Sehari Sebelum Tumpek Wayang (sumber foto Pemkot Denpasar)

INTERMESO, Balinews.id – Setiap enam bulan sekali tepatnya pada Saniscara Kliwon wuku Tumpek Wayang, umat Hindu merayakan hari raya Tumpek Wayang. Pada sehari sebelum Tumpek Wayang, tepatnya pada hari Jumat Wage wuku Wayang,  yang disebut sebagai Alapaksa merupakan hari yang cemer.

Menurut kepercayaan orang tua zaman dahulu,  sehari sebelum Tumpek Wayang dianggap keramat sehingga melarang anak-anaknya untuk berkeliaran ke luar rumah sejak sehari sebelum Tumpek Wayang.

Hal ini juga dikisahkan dalam lontar Sudhamala bahwa Sang Hyang Kumara tengah dikejar-kejar oleh Bhuta Kala hingga Tumpek Wayang keesokan harinya tiba. Sang Hyang Kumara kemudian bersembunyi di bungbung gender wayang.

BACA JUGA :  Bersama Sungai Watch, FOX Jimbaran Beach Bali Turun Tangan Selamatkan Ekosistem Mangrove

Akibatnya Bhuta Kala tidak berhasil menadah Sang Hyang Kumara karena Bhuta Kala sudah mendapatkan banten pengeruwatan (sesajen) di samping gender wayang itu. Bhuta Kala hanya menyantap sesajen yang ada disebelah gender. Kemudian munculah Sang Hyang Kumara dari persembunyianya dan meminta tolong kepada dalang agar ia dibebaskan dari kejaran Bhuta Kala untuk selama-lamanya. Akhirnya, Bhuta Kala disomiya oleh Ki Dalang dan Sang Hyang Kumara pun dapat pengeruwatan agar terhindar dari bencana.

BACA JUGA :  Hipnoparenting: Peduli Kesehatan Mental Ratusan Siswa Tak Lancar Baca Tulis di Bali

Masyarakat Bali percaya bahwa hari yang jatuh setiap enam bulan sekali ini merupakan hari keramat karena para bhuta kala (simbol energi negatif) sedang berkeliaran untuk menggoda manusia.

Maka pada hari itu, umat Hindu akan memasang daun pandan berduri atau “saselat” di pelinggih rumah, pintu masuk, pintu rumah, dan di bawah tempat tidur. Seselat ini bermakna agar terlindungi oleh segala kekuatan jahat.

Daun pandan berduri itu pada keesokan harinya akan dikumpulkan dan diikat dengan benang Tri Datu, di tempatkan di atas sidi lalu di buang di Lebuh, yang mengandung makna simbolik bahwa kita telah berhasil ( sidhi), menyelamatkan diri dari berbagai rintangan dan godaan serta mengedepankan sifat Daiwisampad dalam hidup keseharian. (*)

BACA JUGA :  Liburan Ala Eco Friendly, Toya Ubud Suguhkan Pengalaman Berbeda untuk Wisatawan

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Lainnya

TABANAN, BALINEWS.ID - After five years of planning and collaboration with the local community, Nuanu Creative City has...
BALINEWS.ID - Four Points by Sheraton Bali, Kuta has officially opened its newest signature dining venue, Djaman Doeloe...
DENPASAR, BALINEWS.ID - Aksi unjuk rasa yang digelar di depan Markas Polda Bali, Jalan WR Supratman, Denpasar, pada...
BALINEWS.ID - The Milklab Bali Café Creation 2025 competition came to an exciting close on Wednesday at 70°...

Breaking News

Berita Terbaru
MDA
SMA
AS
LSD
GWK
BBM
P3K
BSU
DLH
OTA
CSR
BK
HIV
ABK
Teh
LPG
SIM
PNS
NTT
STT
PBB
PON
Bir
PMI
DIY
SBY
BCL
Art
SMP
PAW
IKN
PHK
NIK
USG
Pil
ATM
atv
DPR
AHY
kos
PSN
IU
PKB
ASN
KPK
BNN
PAD
TKP
KAI
SEO
BSN
Tas
lpd
5km
Run
Sar
UKT
tni
bkk
PLN
api
KTP
KEK
MoU
Kue
WNA
PMK
BPS